Aku terbang menuju
awan, mengecek uap air yang bergerombol
di awan, sudah lama tak turun hujan. Kulihat dewi bulan sedang berjalan-jalan,
untuk kali pertama Ia nampak di hadapanku. Sekejap k ulupakan tugasku
memerintahkan awan agar menumpahkan hujannya. Aku terpesona, tak pernah ada zat
secantik dirinya, senyumnya mengggetarkan hatiku, mendegupkencangkan jantungku.
Dengan berat hati aku kembali ke bumi meski tak sedetikpun bayang dewi hilang
dari ingatanku.
Tak habis ideku mencari alasan agar mutasi ke khayangan,
kerjaku selalu memuaskan, sebagai menteri kehujanan rasanya langkahku ini akan
mudah. Kubilang saja pada Kaisar, aku lelah melalui perjalanan panjang
bumi-kayangan, maka pindah adalah cara trebaik agar tugasku lebih optimal. Berangkatlah
aku ke dewan pusat yang ada di Mars,
“Selamat petang duhai penjaga kayangan.”
“Selamat petang. Apa keperluanmu tuan hingga datang
jauh-jauh kemari. Rapat paripurna juga baru akan terlaksana dua bulan lagi.”

