Berat jemari bergerak di atas tuts-tuts keyboard.
Bukan karena tak tahu harus menulis apa, tapi karena terlalu banyak memori
berlarian dalam kepala, emosi meletup-letup yang segera ingin berubah jadi
kata-kata.
Mereka bilang sebentar lagi Hari Ibu dan bila kau
berbakti maka kau buatkan puisi untuk Ibumu, dengan setangkai mawar merah
merekah, boleh juga dengan satu kue tart penuh lilin warna-warni tanda cintamu
untuknya. Ah! Hari Ibu, sampai detik ini pun aku tak kunjung mengucap selamat
padanya.
Sebab aku benci Ibuku. Bukan, Ia bukan Ibuku. Ia
makhluk buas yang dulu dijanjikan Tuhan sebagai malaikatku.
Sebab aku benci Ibuku, yang mencuriku dari
singgasana indah ke dunia penuh luka, penuh duka.
Ya. Aku benci Ibuku.

