RSS

dan pada akhirnya aku


Di stasiun itu aku mematung seorang diri, sepanjang petang hingga malam menghadang. Satu inchi pun aku tak bergerak dari tempat aku berpijak. Waktu yang begitu berharga, yang kuhabiskan tuk menunggumu di separuh usia. Aku telalu berupaya keras, mengorbankan banyak hal demi selaksa cerita cinta tentang kita.
Tapi mimpi tinggallah mimpi, semakin keras ku mencoba semakin kokoh benteng penolakanmu.
“Aku benar-benar mencintaimu, Kyra.”
“Sungguh?”
“Dengan segenap hati aku bersungguh-sungguh.”
“Apalagi yang harus kubuktikan padamu. Kau telah saksikan sendiri bagaimana aku setangah mati mengejarmu.”

Butiran Debu di Ruang Tamu Rumahmu


“Kita sudah berjanji untuk sehidup semati.”
“Ah sudahlah, tak perlu diperpanjang. Aku hanya tak bisa melanjutkan hubungan ini, mengertilah!”
“Tapi...”
Tak ada manusia yang bisa dipercaya, sekalipun ia telah lama hidup di tubuhmu, begitu dekat tanpa ruang sedikitpun. Terlalu banyak alasan atau malah tak ada sama sekali, hanya hati yang bicara. Entah kebohongan atau kebenaran yang kudengar saat ini.
Aku nikmati rasa sakit ini, terseok-seok dalam keterpurukan, butiran debu yang tak berarti, ke sana ke mari dihembus angin sementara aku tak ada daya uuntuk berdiri. Aku tersesat di dunia yang kukenal, tapi kini semua jadi gelap, pengap.

Lagu Lama


Lagu ini mengalun begitu saja, sudah lama tak kudengar meski ada di daftar lagu pemutar musik yang kupunya. Sudah kuberikan status “berbahaya” di folder yang artinya terlarang untuk kujamah. Tapi tanpa sengaja lagu ini bergulir, sudah terlanjur jadi tak apalah untuk malam ini saja, kulanggar janjiku untuk tak masuk lagi ke folder itu.
Ku hela nafas panjang, penyesalan nampak jelas di raut wajahku yang kini ajdi tambah mengkerut, sudah kubangun dinding kokoh sebgai pertahanan dari rasa sakit dan rindu. Tapi nyatanya, semua itu sia-sia ketika wajahmu hadir lagi di depan mata ini, meski tak langsung tapi tak mampu kulupakan senyuman itu. Senyuman yang tak pernah gagal membuatku terpesona, terpedaya hingga tak sadar aku jatuh terlalu jauh dalam jurang cinta yang nista.

Dalam Diam Aku Bicara

Aku bicara pada Tuhan dalam diam, ketika yang lain memohon kemenangan, merengek kebahagiaan, aku hanya bersuara lirih: “Kau tahu apa yang ku mau, sebab itu tak ku panjangkan doaku. Aku tak minta kau kabulkan harapku, hanya saja kuatkan aku bila yang terjadi tak seperti yang ku damba.”
**
Hujan deras di luar jendela, aku menatap lekat-lekat pada sosok beku yang terbujur kaku tak berdaya. Aku diam saja, tak tahu harus berbuat apa-apa, seharusnya aku menangis  sekarang. Yah menangis, tapi itu pun tak kulakukan, hanya melempar pandang kosong pada sekitar ruangan. Begitu dingin, begitu mencekam.

Waktu Sehabis Senja

Ibu pernah bilang padaku, bila burung itu datang ketika malam, terbang melintas, maka akan ada bencana atau malah ada yang meninggal dunia.
Dan untuk ke sekian kalinya ia datang, entah menyampaikan salam pada siapa, tapi ia selalu datang saat aku terjaga.
Baiklah, aku memang tak pernah berkawan baik dengan waktu ketika mentari membelakangi, aku tak tahu pasti mengapa aku tak bisa lelap layaknya makhluk lain, atau memang aku spesies nokturnal?
Ah sudahlah, aku manusia normal, hanya saja aku selalu menganggap ada yang tak beres.

Bahasa dan Kita

Dalam rangka Bulan Bahasa (Oktober) 2012, harian Kompas mengajak semua Kompasianer berbagi pengalaman seputar penggunaan bahasa Indonesia. Mari mencintai bahasa Indonesia dengan meramaikan lomba menulis bertema “Bahasa Indonesia dan Kita” di Kompasiana.
Syarat dan ketentuan lomba:
    • Lomba terbuka bagi Kompasianer dan umum. Peserta umum dipersilakan membuat akun Kompasiana untuk mengirimkan karya.Tulisan tidak melanggar Ketentuan Konten Kompasiana.
      • Tulisan menggunakan bahasa Indonesia yang baik.
        • Peserta wajib mencantumkan tag bahasadankita” (tanpa tanda kutip).