Di stasiun itu aku mematung seorang diri, sepanjang petang hingga malam menghadang. Satu inchi pun aku tak bergerak dari tempat aku berpijak. Waktu yang begitu berharga, yang kuhabiskan tuk menunggumu di separuh usia. Aku telalu berupaya keras, mengorbankan banyak hal demi selaksa cerita cinta tentang kita.
Tapi mimpi tinggallah mimpi, semakin keras ku mencoba semakin kokoh benteng penolakanmu.
“Aku benar-benar mencintaimu, Kyra.”
“Sungguh?”
“Dengan segenap hati aku bersungguh-sungguh.”
“Apalagi yang harus kubuktikan padamu. Kau telah saksikan sendiri bagaimana aku setangah mati mengejarmu.”

