Aku duduk berjam-jam di depan meja telepon di ruang tamu
rumah pak Lurah. Ah Beliau pasti mengira betapa menderitanya gadis rantau ini. Homesick nama kerennya, tapi orang-orang
di desa ini pasti juga tak tahu artinya.
“Belum ada telepon, Nduk?”
“Eh ada Bapak, belum nih pak. Sudah capek nunggunya.”
Pak Lurah tertawa geli melihatku yang uring-uringan sepanjang
hari, menanti kabar dari sang pujaan hati yang sudah hampir empat puluh hari
ini tak kujumpai. Program KKN di kampusku membawaku kemari, desa tanpa sinyal
selain telepon kabel milih sesepuh. Maka jadilah kami mengular di depan rumah
Beliau untuk berhubungan dengan keluarga yang jauh di rumah.
“Saya pulang sajalah Pak, sudah larut malam. Tidak enak
dengan Bapak, Bapak pasti ingin istirahat.”
“Tak apa, Nduk. Bapak tahu perasaanmu. Bapak kan pernah muda
juga. Pernah galau juga seperti kamu sekarang.”

