RSS

Cinta Pada Dewi Bulan


Aku  terbang menuju awan, mengecek  uap air yang bergerombol di awan, sudah lama tak turun hujan. Kulihat dewi bulan sedang berjalan-jalan, untuk kali pertama Ia nampak di hadapanku. Sekejap k ulupakan tugasku memerintahkan awan agar menumpahkan hujannya. Aku terpesona, tak pernah ada zat secantik dirinya, senyumnya mengggetarkan hatiku, mendegupkencangkan jantungku. Dengan berat hati aku kembali ke bumi meski tak sedetikpun bayang dewi hilang dari ingatanku.
Tak habis ideku mencari alasan agar mutasi ke khayangan, kerjaku selalu memuaskan, sebagai menteri kehujanan rasanya langkahku ini akan mudah. Kubilang saja pada Kaisar, aku lelah melalui perjalanan panjang bumi-kayangan, maka pindah adalah cara trebaik agar tugasku lebih optimal. Berangkatlah aku ke dewan pusat yang ada di Mars,
“Selamat petang duhai penjaga kayangan.”
“Selamat petang. Apa keperluanmu tuan hingga datang jauh-jauh kemari. Rapat paripurna juga baru akan terlaksana dua bulan lagi.”

“Tak apa penjaga, aku rindu pada kaisar raja. Hanya ingin sedikit berbincang- bincang  tentang angin muson yang berhembus sembarangan. ”
“Memang benar tuan menteri,  banyak yang datang menghadap kaisar untuk hal itu. Menteri peranginan  sudah mendapat teguran tapi tak bisa berbuat apa-apa karena angin muson tak mau diatur. Mari tuan, saya antarkan ke resepsionis.”
Maka majulah aku ke resepsionis, sang penunggu adalah dewi Maya yang juga cantik rupawan, begitu ramah, aku mengisi daftar tamu kemudian menunggu. Di kerajaan kami, semua sama, berhak menemui kaisar raja dan punya kewajiban sama untuk duduk di daftar tunggu.
“Selamat petang menteri kehujanan.”
“Selamat petang.”
Aku belum menoleh padanya, mataku masih terpaku pada surat kabar harian yang masih baru itu.
“Kemarin aku melihat tuan di awan, ada perlu apakah?”
Aku terperanjat, rupanya dewi bulan yang mengajakku mengobrol, aku merasa begitu bahagia.
“Biasalah dewi, tugas dinas yang harus dikerjakan. Memang lelah tapi mau bagaimana lagi aku harus melakukannya demi rakyat kita.”
Aku sebenarnya masih ingin bercakap-cakap dengannya, tapi antrianku telah tiba dan aku harus menemui kaisar raja. Maka aku pamit pada dewi bulan serays mengecup manis tangannya.
Aku segera mengutarakan maksudku pada kaisar raja, angin muson yang bertium kencang membuatku kesusahan terbang ke awan. Tapi  raja lekas menolak meski aku sudah mengeluarkan berbagai jurus untuk merayu. Ah sial benar, dewi bulan dinas di kayangan sementara aku harus tetap tinggal di bumi. Aku begitu kecewa dengan keputusan kaisar tapi mau bagaimana lagi, semua tak bisa diganggu gugat.
 Sejak itu aku rutin datang ke kayangan, hanya untuk menatap wajah dewi bulan dalam-dalam. Begitu selama berbulan-bulan hingga kupaksakan diri untuk mengutarakan cintaku padanya.
“Aku mencintaimu dewi, sungguh sejak pertama kita berjumpa.”
“Aku tahu tuan, kutangkap dari sinar matamu. Tapi jarak kita begitu jauh, aku tak bisa.”
“Bersabarlah dewi, masa bakti selesai aku akan melayangkan permohonan menteri di kayangan.”
Sejak saat itu kami bercinta, meski jarak begitu jauh tapi kami tetap mencinta. Aku begitu tersiksa dengan jarak ini, seolah ia ingin membunuhku, ya jarak ini membunuhku, menjauhkanku dari peri cintaku.
Aku selalu mengingat dirinya, menyanyikan lagu indah di taman bunga, tiap malam kupandangi bingkai foto berdua dari kamera yang kurampas dari penduduk bumi. Entah kapan kami bisa bersama, membalas dendam membunuh jarak.

0 komentar:

Posting Komentar