Aku duduk berjam-jam di depan meja telepon di ruang tamu
rumah pak Lurah. Ah Beliau pasti mengira betapa menderitanya gadis rantau ini. Homesick nama kerennya, tapi orang-orang
di desa ini pasti juga tak tahu artinya.
“Belum ada telepon, Nduk?”
“Eh ada Bapak, belum nih pak. Sudah capek nunggunya.”
Pak Lurah tertawa geli melihatku yang uring-uringan sepanjang
hari, menanti kabar dari sang pujaan hati yang sudah hampir empat puluh hari
ini tak kujumpai. Program KKN di kampusku membawaku kemari, desa tanpa sinyal
selain telepon kabel milih sesepuh. Maka jadilah kami mengular di depan rumah
Beliau untuk berhubungan dengan keluarga yang jauh di rumah.
“Saya pulang sajalah Pak, sudah larut malam. Tidak enak
dengan Bapak, Bapak pasti ingin istirahat.”
“Tak apa, Nduk. Bapak tahu perasaanmu. Bapak kan pernah muda
juga. Pernah galau juga seperti kamu sekarang.”
“Hehe Bapak bisa saja.” Mukaku memerah, malu rasanya seperti
orang bodoh tak beranjak dari hadapan meja telepon yang mungkin sudah jemu
memandang wajahku yang kutekuk sejak sang kekasih jauh dari dekapan.
“Rindu ya sama Dia?”
“Hehe ya begitulah, Pak.”
Pak Lurah membuka obrolan dengan hangat. Sepertinya ia bisa
menerawang apa yang sedang ku rasakan.
“Aank-anak muda itu masih belum stabil emosinya. Bertindak semau
mereka dengan dalih cinta. Semuanya indah, waktu bertemu, waktu berbalas
senyum, waktu kangen-kangenan kayak kamu ini. Ngomongnya cinta mati, kalo putus
bunuh diri. Tapi kan ndak tahu nantinya bagaimana, ndak tahu siapa yang
benar-benar mencintai kita, siapa yang merindu kita di sisinya. Kita hidup ini sudah
ada pendamping yang setiap hari menemani kita, prioritas kita buat Dia bahagia,
seakan hidup cuma buat bilang cinta
padanya.”
Kami terbuai dengan bahasan-bahasan yang seru hingga dering
telepon mengakhirinya. Aku terkejut, bertanya-tanya dalam hati apa itu Rido,
kekasihku yang ku tunggu-tunggu teleponnya.
“Halo.” Terdengar suara dari ujung telepon, suara yang tak
asing kudengar. Mataku berkaca-kaca.
“Iya halo”
“Mama kangen Adek, Adek sehat kan?”
Aku tak mampu berkata apa-apa. Benar kata Pak Lurah kita memang tak pernah tahu siapa yang tulis mencinta dan merindu kita.
"Adek juga kangen Mama, Adek sayang sama Mama, Adek cinta sama Mama."
Aku tak mampu berkata apa-apa. Benar kata Pak Lurah kita memang tak pernah tahu siapa yang tulis mencinta dan merindu kita.
"Adek juga kangen Mama, Adek sayang sama Mama, Adek cinta sama Mama."


0 komentar:
Posting Komentar