RSS

Kepada Ibunda

Berat jemari bergerak di atas tuts-tuts keyboard. Bukan karena tak tahu harus menulis apa, tapi karena terlalu banyak memori berlarian dalam kepala, emosi meletup-letup yang segera ingin berubah jadi kata-kata.
Mereka bilang sebentar lagi Hari Ibu dan bila kau berbakti maka kau buatkan puisi untuk Ibumu, dengan setangkai mawar merah merekah, boleh juga dengan satu kue tart penuh lilin warna-warni tanda cintamu untuknya. Ah! Hari Ibu, sampai detik ini pun aku tak kunjung mengucap selamat padanya.
Sebab aku benci Ibuku. Bukan, Ia bukan Ibuku. Ia makhluk buas yang dulu dijanjikan Tuhan sebagai malaikatku.
Sebab aku benci Ibuku, yang mencuriku dari singgasana indah ke dunia penuh luka, penuh duka.
Ya. Aku benci Ibuku.

Yang tanpa lelah mulutnya komat-kamit seakan membaca mantra mengutukku jadi batu.
Yang tiada letih membuat daftar panjang kesalahanku.
***
Bertahun-tahun berlalu, aku menyangsikan malaikat itu. Tak kudapati satupun bersayap yang menemaniku dalam pekatnya kehidupan. Ternyata Tuhan Penipu, Ia sukses mengelabuiku.
Aku menggerutu, setengah mati meminta Tuhan mencabut nyawaku.
Tapi kemudian mata ini terbuka lebar. Malaikat yang dimaksud Tuhan memang tak bersayap, karena tanpa sayap pun ia mampu mengajakku terbang, kemanapun yang ku inginkan. Dengan tangan-tangan yang mampu menghalau segala ancaman yang datang padaku, dengan  tatapan paling manis yang mampu meneduhkanku, dan dengan segala kesederhanaan yang selalu membuatku merasa teristimewa.
Ialah Ibu, yang dulu bagiku wanita paling cerewet, jahat, dan kupikir tak menginginkan aku lahir dari rahimnya. Ialah Ibu, yang dulu bagiku monster, tokoh antagonis di film-film superhero. Tapi Ia jugalah ibu yang kutemukan menangis sendu dalam malam yang pilu. Ia Ibuku, yang tangannya mengusap-usap pipiku, sesekali Ia menggenggam erat tanganku. Ia Ibuku, yang berurai air mata kala tubuh ini tergolek tak berdaya. Ia Ibuku, yang dengan setia menjagaku meski perih badannya.
Ialah Ibu yang dengan tegar berdiri di tepi jalan menungguku pulang, dengan payung di tangan kiri dan senter di kanan ketika listrik padam sedang malam ditemani hujan deras dan petir yang bersautan.
Sembilan belas tahun telah merepotkan ibu. Sembilan belas tahun yang bila harus kubayar, dengan seisi dunia pun tak mampu menggantikan. Maka seperti yang mereka bilang, sebentar lagi Hari Ibu, alangkah tega bila kulalui tanpa berucap terima kasih padanya.
Maka izinkan putrimu yang tak tahu diri mengucap kata-kata yang selama ini tak mampu tersampaikan, karena lidah begitu kelu bila berhadapan denganmu.
Kepada Ibunda yang semakin menua, gurat di wajahnya cermin keikhlasan.
Aku memang bukan siapa-siapa, takkan jadi siapa siapa bila tanpa rayumu pada Tuhan dalam sepertiga malam terakhir untuk memuluskan jalanku mencapai harapan.
Duhai Ibunda nan cantik jelita, helai putih di rambutnya tanda pengabdian.
Seumur hidup berjuang mengukir senyum di wajah putra-putrinya. Meski jasa belum terbalaskan, tapi dalam hatinya tak pernah ada penyesalan.
Untuk Ibunda yang tiada dua, cekung matanya simbol kesediaan.
Siap siaga menantang rintang, ksatria yang hadir dalam hangatnya dekapan.
Juga kepada tanggung jawab seorang ayah, kolaborasi ciamik keduanya yang melindungi meski harus bertaruh nyawa.
Tak ada tempat paling nyaman selain pelukan ayah bunda, yang gratis tanpa syarat dan ketentuan.
Kecup manis,

Rindy Dwi Ladista

0 komentar:

Posting Komentar