RSS

Parade Bintang

Parade Bintang
"Ayah, mengapa aku diberi nama Bintang? Padahal bulan lebih besar dan
lebih indah."
     
"Bintang itu energi nak, meskipun bulan terlihat lebih indah. Tapi
kenyataannya bintanglah yang lebih baik hati."
   
"Baik hati bagaimana, Yah?"
     


"Bintang itu mampu memancarkan cahayanya sendiri, sedangkan bulan
adalah satelit bumi. Bulan hanya memantulkan cahaya yang didapatnya
dari bintang."
   
"Oh jadi bulan cuma pinjam cahaya ya? Huh numpang tenar itu namanya."

***

Mentari pagi telah kembali dari peraduan, siap berbagi kehidupan pada
semesta alam. Tak ku temui embun di dedaunan, hanya asap menyesakkan
dari knalpot-knalpot tua yang mencoba melawan keadaan. Aku bangun dari
lelap semalaman, menatap malaikat kecilku yang memeluk erat sebuah
bingkai foto. Ku ambil pelan-pelan bingkai itu, nampak seorang wanita
cantik dengan gurat kepedihan di senyum manisnya. Tangan wanita itu
menggendong seorang bayi dan yang di sampingnya itu adalah aku. Tanpa
terasa, air mataku meleleh.
       

"Ayah kangen ibu ya ?" Suara Bintang membuyarkan lamunanku.
          
Ku tatap bola matanya dalam-dalam, ada pesona wanita itu yang
diwariskan padanya.
    
"Wah, jagoan Ayah sudah bangun ya? Ayo lekas mandi, wudhu lalu shalat,
Bintang tak mau terlambat ke sekolah bukan?" Jawabku mengalihkan
pertanyaanya.
Aku membopongnya ke kamar mandi, memandikannya lalu menuntunnya untuk
berwudhu. Setelah itu kami shalat berjamaah. Bagi kami kebersamaan
adalah nikmat Tuhan yang tiada dua.
Aku masih punya mie instan yang ku dapat dari berhutang di warung
tetangga semalam untuk sarapan. Hasil berjualan hari ini akan ku
bayarkan hutangku, kasihan juga sang pemilik warung itu.
Jarum jam usang pada dinding papan rumahku masih berada di antara    angka 5 dan 6, aku membantu Bintang berpakaian dan sarapan. Lalu benjak menuju sekolah Bintang.
Langkah kaki kami perlahan menjauhi gubuk yang kami sebut istana itu.
Kami berhenti di sebuah kios untuk mengambil koran lalu bergegas
mengantar Bintang ke sekolah.
  Sekolah Bintang hanyalah sekolah rakyat biasa. Sekolah untuk anak-anak dari keluarga yang tak berada. Sebenarnya aku ingin Bintang  mengenyam pendidikan di sekolah dengan standar internasional, yang gedungnya megah sekali agar aku tak khawatir atap sekolah rubuh ketika
Bintang kecilku belajar.
Tapi aku tak dapat berharap banyak, penghasilanku yang tak menentu ini tak akan mampu mencukupi kebutuhannya bersekolah di sana.

Ku sandarkan Bintang di bangku pertama paling pojok, berhadapan
langsung dengan meja guru. Putraku memang pandai, hanya kurang
beruntung saja di pelajaran olahraga.
    
Selesai mengantar Bintang, aku beranjak ke jalan raya menjajakan dagangan.
"Koran-koran pak, harga BBM segera naik." Ujarku pada setiap kendaraan
yang berhenti saat lampu merah.
Jam 10 tepat aku sudah berada di sekolah Bintang. Aku tak pernah membiarkan ia pulang sendirian. Ketika anak-anak lain berhamburan keluar, aku masuk ke ruang kelas menggendongnya pulang.
Aku ingin selalu bersama Bintang, tapi tak mungkin ku bawa ia berjualan. Takut kulitnya terbakar sinar mentari. Jadi, ku tinggalkan Bintang di rumah dengan koran terbaru yang menemaninya.  
Jam 12 siang aku kembali ke rumah, membawakan makanan untuknya.
Setelah makan dan shalat bersama Bintang, aku kembali bekerja sebagai
tukang parkir di pertokoan yang tak jauh dari rumahku.
Ketika sore hari, aku baru pulang untuk melepas rinduku bersama Bintang.
***
"Bintang, ayo masuk sudah hampir maghrib ini."
"Sebentar Ayah, ada yang sedang Bintang tunggu."
       
"Apa yang ditunggu?"
   
"Mars, Ayah. Malam ini Mars akan terlihat sangat terang. Mars sedang
  dekat sekali dengan Bumi, Yah.
"Benarkah? Bintang tahu dari mana?"   
"Dari koran yang Ayah beri tadi siang. Mars bisa dilihat setelah
  matahari tenggelam, di sebelah Timur loh Yah." 
Lalu aku pun memangkunya, mendekapnya bagai seorang bayi mungil
menanti Mars menyapa kami.     
"Bintang kalau sudah besar mau jadi apa?"
"Hmmm apa ya? Bintang mau jadi astronot, biar bisa main ke Mars. Nanti
Ayah pasti Bintang ajak."
"Kalau Bintang mau pergi ke Mars. Bintang harus rajin belajar, terutama sains."
"Sains itu apa Yah?"
“Sains itu berasal dari Bahasa Latin yaitu scientia yang berarti pengetahuan, diperoleh melalui pembelajaran dan pembuktian melalui metode ilmiah. Dengan sains, hidup kita akan menjadi lebih mudah. Seperti Bintang yang mau ke Mars, Dulu sekali tidak ada yang tahu tentang Mars. Setelai sains dipelajari, barulah banyak penemuan hal-hal yang menakjubkan.
“Metode ilmiah itu apalagi, Yah? Bintang bingung.”
“Metode ilmiah itu proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Metode ilmiah itu punya empat unsur. Yang pertama, karakterisasi termasuk pengamatan dan pengukuran. Yang kedua, hipotesis yaitu penjelasan teoritis yang merupakan dugaan hasil pengamatan dan pengukuran. Yang ketiga prediksi dan yang terakhir eksperimen. Semua itu akan Bintang pelajari di SMP nanti. Sekarang kita masuk dulu, adzan maghrib sudah berkumandang.”
“Nanti dulu Ayah, takut Mars datang waktu kita shalat.”
Aku tersenyum kecil sambil menggendong Bintang yang tak kuasa menolak ajakanku.
Setelah selesai shalat, Bintang merengek minta digendong ke belakang rumah tempat biasa kami menikmati pemandangan malam.  Tapi ku tangkap raut kecewa di wajahnya sebab langit mendung tebal. Jangankan Mars, bulan pun tak terlihat. Lalu kami kembali ke rumah, menuju peraduan setelah lelah seharian.
 ***
Bintang memang tak seperti anak-anak lain, Ia istimewa. Ketika bocah-bocah seusianya berebut bola di lapangan, Bintang hanya mampu menonton dari lubang pada diinding papan rumah kami. Ia duduk tenang di dipan kayu dengan kasur kapuk yang sudah tipis. Walaupun aku tahu, dalam hatinya menjerit. Seperti malam ini, kudapati Bintang tengah menangis terisak-isak.
“Bintang kenapa? Kok sedih sekali?”
Ia masih diam seribu bahasa. Tak ada keinginannya untuk menjawab pertanyaanku. Aku mendekatinya, membelai rambutnya yang hitam lebat. Kini Bintang berada di pangkuanku. Walaupun aku laki-laki tapi nurani seorang ibu mengalir di jiwaku. Aku tahu benar ada sesuatu yang mengganggu perasaan putraku.
“Orang Bumi jahat-jahat, Yah. Bintang mau pindah. Bintang tidak betah lagi di Bumi.”
“Memang orang Bumi jahat kenapa? Bintang disakiti?”
“Ya  Ayah. Sakit sekali. Mereka selalu menghina Bintang. Bintang diam saja, tidak pernah membalas ucapan kotor mereka. Tapi mereka semakin menjadi-jadi. Mereka selau bilang ”Sikibun! Sikibun! Sikil buntung!” Mereka jahat sekali Ayah. Mereka bilang Bintang hanya menyusahkan Ayah, Bintang tidak berguna. Teman—teman bilang Bintang bukan laki-laki karena tidak mampu menendang bola.”
Hatiku pedih mendengarnya. Sikil buntung itu berarti kaki yang putus. Aku ingin ikut menangis tapi aku harus tegar. Aku harus terlihat kuat di mata Bintang.
“Bintang, biarkan saja mereka bicara apa. Bintang tidak usah ambil pusing dengan ucapan mereka. Mereka hanya iri dengan Bintang. Bintang anak baik, di sekolah Bintang selalu juara satu. Guru-guru sayang pada Bintang. Mereka sendiri yang rugi karena menghina Bintang. Tuhan kan tidak suka dengan anak yang nakal. Biar mereka nanti masuk neraka. Bintang tidak menyusahakan Ayah kok. Justru Bintanglah yang membuat Ayah bersemangat menjalani kehidupan. Susah senang kita hadapi bersama. Jadi, Bintang tidak boleh sedih lagi. Senyum Bintang itu bisa membuat lelah ayah hilang semua. Jangan lupa kalau Ayah selalu membutuhkan Bintang.”
Aku menyeka air matanya, senyum Bintang merekah. Hatinya mungkin sudah sedikit lega.
“Memang Bintang mau pindah kemana?”
“Mars”
“Mars? Memang ada kehidupan di Mars?”
“Ah Ayah kuno, bisa dong.  Kemajuan sains dan teknologi pasti bisa membuat manusia bertahan hidup di Mars. Mars itu kan planet yang paling dekat dengan Bumi. Jadi kalau kita pindah ke Mars, ongkosnya tidak terlalu mahal Yah.”
Aku tertawa mendengar keluguannya. “Lalu bagaimana lagi?”
“Setiap hari orang Bumi makin jahat, Yah. Kalu Bintang sudah besar, Bintang mau buat pesawat ruang angkasa yang sangat besar, cuma orang-orang baik yang boleh ikut.”
“Bintang tahu semua itu dari mana ?”
“Dari sini, Yah.”
Bintang menunjukkan sebuah kliping, aku membukanya pelan-pelan. Aku terharu sekali, rupanya itu adalah potongan-potongan artikel dari koran yang setiap hari memang ku berikan pada Bintang agar Ia tak bosan menungguku pulang. Artikel-artikel itu tertata rapi. Setiap informasi tentang Mars dikumpulkannya. Ah Bintang, semoga cita-citamu tercapai Nak.
“Hmmm kalu begitu sang astronot harus tidur sekarang karena perjalanan menuju Mars membutuhkan waktu 450 hari.”
“Lama sekali, Yah? Ayah pasti bercanda.”
“Benar sayang, Ayah kan tidak kuno.” Godaku sambil menggendongnya menuju tempat tidur.
***
Bintang sudah tertidur, tapi tidak denganku. Aku memikirkan masa depan Bintang. Bagaimana keadaannya bila aku berpulang lebih dulu. Di sini, aku satu-satunya yang Bintang punya. Aku resah mengingat keadaannya yang istimewa.
Lima tahun lalu, ku bawa ia ke Jakarta. Istriku, Rina masih hidup saat itu dan Bintang masih berusia dua tahun. Awalnya kami hidup berkecukupan. Aku bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Rumah kami sederhana, terletak di tepi jalan raya. Banyak kendaraan yang lalu-lalang. Dan yang paling menyenangkan, kami bisa menikmati keindahan malam di teras rumah. Istriku memang tergila-gila pada kenampakan malam. Karena itu, putra kami diberi nama Bintang. Bahagia bagi kami sederhana, tak perlu khawatir memikirkan uang untuk makan besok.
Sepulang dari bekerja, aku selalu menemani Bintang bermain bola. Bintang punya tendangan yang bagus, walaupun dia masih kecil tapi ia seringkali mebuatku kewalahan menjaga gawang. Aku mengira Ia akan menjadi seorang pesepak bola yang handal. Hingga akhirnya, suatu hari yang kelam di Desember kelabu 2010, Bintang kecil sedang berlari mengejar bolanya yang begulir ke jalanan. Rupanya, saat itu Bintang luput dari pengawasan istriku.
Sebuah truk menghantam tubuh mungilnya. Nyawa Bintang bisa diselamatkan, tapi Bintang harus merelakan kedua kakinya. Istriku menangis sejadi-jadinya, menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Bintang. Aku berusaha menguatkannya meski aku tak bisa membohongi diriku bahwa hatiku juga remuk.
Ujian belum juga berakhir. Imanku kini benar-benar diuji. Ketika semua tabunganku habis untuk biaya pengobatan Bintang. Aku harus menerima kenyataan pahit lagi dan lagi. Aku dipecat, perusahaan tempat ku menggantungkan hidup pailit dan pengurangan karyawan dipilih sebagai solusi untuk menyelamatkan perusahaan. Malangnya, aku adalah salah satu dari karyawan yang tak beruntung itu.
Kami pindah sebab kontrakan rumah yang selama ini kami tempati terlalu mahal untuk dibayar. Kata istriku, rumah kami yang sekarang sempit tapi ku jawab agar kami bertiga semakin hangat dan dekat. Ternyata mencari pekerjaan itu sangat sulit. Hanya berjualan koran yang ku dapat. Tak apalah, ku jalani pekerjaan berat ini demi anak istriku.
Pekerjaanku tak mampu menutupi biaya hidup kami bertiga. Utang menumpuk di sana-sini. Rupanya, istriku tak tahan lagi. Ia mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidup dengan menenggak seliter premium yang telah dicampurnya dengan racun tikus. Ah, Rina andai kau tahu harga premium akan naik dalam waktu dekat ini, mungkin kau akan berpikir dua kali untuk meneguknya.
Bintang kecil belum mengerti tentang kematian ibunya. Awalnya ia selalu menanyakan di mana ibunya, tapi kini ia tak pernah bertanya lagi.
***
Pagi ini begitu cerah, hari yang baik untuk berjualan. Tapi entah mengapa terasa berat untuk meninggalkan Bintang. Aku tak ingin lekas pergi dari ruangan kelasnya. Memang selama bersekolah, hanya satu hari aku menungguinya. Itupun di hari pertama ketika Bintang TK dulu. Aku memandanginya lama seakan ini pertemuan terakhirku dengannya.
Bintang tersenyum melihatku. Senyuman itu, yang tak pernah gagal menyejukkan hatiku. Aku harus segera berjualan demi Bintang, benar sekali demi Bintang. Aku melambaikan tanganku ke arahnya dan dia pun membalas dengan lambaian tangannya yang lembut.
Selama berjualan hatiku tak tenang. Aku selalu memikirkan Bintang. Maka ku putuskan untuk menengoknya. Mungkin, Bintang sedang membutuhkan aku. Belum sampai di gerbang bambu sekolahnya, aku terkejut. Banyak orang yang datang, bukan itu yang ku khawatirkan, melainkan bangunan sekolah yang runtuh. Itu kelas Bintang, yang hancur itu kelas Bintang. Aku menjerit dan tak sadarkan diri. Belasan murid terluka dan satu korban tewas. Bintangku tak mampu berlari, tak mampu menyelamatkan diri. Dialah yang tewas itu.
Aku duduk diam di samping tubuh yang dingin itu. Air mataku mengalir tak tahu lagi harus bagaimana. Putraku berpulang ke tempat yang belum mampu ku ikuti.
***
Bintang telah dimakamkan tepat di samping pusara istriku, agar ia tak sendirian di sana. Ada istriku yang akan menjaganya dengan baik. Rina lebih mencintainya dariku. Biar Bintang tenang di surga, tak akan ada lagi yang menghinanya. Ia tak perlu makan mie instan lagi.
***
Aku pulang dengan langkah gontai, memasuki rumah tanpa sapaan manis khas Bintang. Aku berusaha membunuh sedihku, aku mandi dalam mencurahkan kesedihan lewat doa yang ku tujukan pada Tuhan. Ada yang ku lupakan, segera aku berlari keluar rumah.
Nak, pagi tadi Ayah membaca koran. Mars akan muncul malam ini, ditemani Merkurius, Venus, Jupiter, dan Saturnus. Merkurius akan tampak di Barat setelah matahari tenggelam seperti katamu, Nak. Mars tampil dengan indahnya. Dia benar-benar planet merah, Nak. Venus dan Jupiter menyusul, setelah itu Saturnus terbit. Nak, andai kau dapat menunggu, pasti Ayah tak sendirian menikmatinya.
Aku tak kuasa menahan tangis, ku tinggalkan tempat itu kembali ke rumah. Aku membereskan barang-barang, menyiapkan pakaian yang akan ku bawa pulang ke Lampung. Telah ku putuskan untuk kembali ke kampung halaman, sebab di sini tak ada lagi gairah untuk melanjutkan kehidupan.
***
Pagi ini aku berangkat, dengan satu tas punggung. Aku menjauh dari pintu. Baru beberapa langkah, aku menoleh ke belakang. Memang tak ada yang istimewa dari rumah itu, kecuali sepenggal kenangan tentang bagaimana keluarga kecil ynag malang menjalani kehidupan. Seorang ayah dan seorang ibu, ditemani anak ajaib berusia tujuh tahun yang ingin sekali mempelajari sains, agar dapat membuat pesawat ruang angkasa untuk membawa orang-orang Bumi yang baik hati ke Mars, ketika Bumi tak layak lagi untuk ditempati, kalau pemanasan global menguasai Bumi, saat perang nuklir mengancam penduduk Bumi, kala kehancuran terasa makin dekat. Bintang ingin menyelamatkan makhluk Bumi, tapi justru Ia yang tak bisa diselamatkan. Ia telah kembali sebelum menikmati pemandangan langit yang luar biasa, parade bintang.
**TAMAT**


Tentang Penulis
Penulis bernama Rindy Dwi Ladista. Lahir di Bandar Lampung, 7 April 1994. Saat ini tengah mengenyam pendidikan S1 Akuntansi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung pada semester kedua. Bertempat tinggal di Jalan Mayor Salim Batubara Gang Nusa Indah nomor 31 Teluk betung Bandar Lampung kode pos 35212. Penulis dapat dihubungi melalui email di rindydwiladista@yahoo.co.id atau via telepon di 08992136492

0 komentar:

Posting Komentar