RSS

Labirin Kehidupan

Lambat laun kakinya bergerak, terseok-seok menapaki celah kehidupan. Dari gang ke gang ia berjalan, mencari hatinya yang tak bertuan. Baginya, hidup tak lebih dari sebuah penderitaan. Lepas satu cobaan, kembali ia jatuh pada jurang kenistaan. Empat belas tahun sudah jadi bagian kelam sepanjang perjalanan. 
Tujuh tahun sudah kami berumah tangga. Tujuh tahun juga sudah kami menunggu, buah hati yang kami nanti-



nanti tak kunjung datang. Amira memang sudah berkali-kali mengandung, tetapi juga berkali-kali keguguran. Air matanya tak henti mengalir saat mengingat luka itu. Aku hanya bisa menyediakan bahuku, tempat semua lelahnya mengadu.
“Sudahlah sayang, jangan bersedih lagi. Tuhan pasti sudah menyiapkan rencana yang indah untuk kita.”
“Aku malu, sebagai seorang perempuan aku tak sempurna. Mengapa Tuhan selalu mencoba kita? Kapan rencana indah-Nya datang? Aku sudah hampir putus asa.”
“Sabar ya sayang, Tuhan mendengar doa kita. Bukan Ia mengacuhkannya, Ia akan menjawabnya dalam waktu-Nya.”
Hari ini aku pulang ke rumah dengan membawa hadiah luar biasa untuk Amira, ia pasti akan terkejut. Pelan-pelan aku menyusup ke dalam rumah. Dari kejauhan, aku melihat Amira duduk di bangku taman.
“Selamat ulang tahun, sayang.” Amira terperanjat, seketika wajahnya dipenuhi rona bahagia."
Aku duduk menghadapnya dengan tangan membawa kue ulang tahun. Amira memejamkan matanya, bersiap untuk meniup lilin. Entah apa yang menjadi harapannya. Ah Amira menjadi semakin cantik meski umurnya sudah kepala tiga.
Aku menggengam tangannya masuk ke dalam rumah, naik ke lantai dua menuju kamar yang sejatinya kami sediakan untuk anggota baru keluarga kami. Amira nampak enggan masuk, tapi tanganku memegang erat tangannya yang lembut.
Amira bingung saat melihat sesosok bayi mungil yang tengah berbaring di tempat tidur. Aku mengajaknya mendekat, tapi ia malah mundur hendak meninggalkanku dan bayi itu. Amira duduk di tepi ranjang.
“Anak siapa itu?”
“Anak kita, sayang.”
“Dari mana?”
“Hmm kamu ini bertanya seperti polisi, aku kan bukan pencuri. Tapi kok diinterogasi begitu.”
“Maaf, aku hanya kaget. Ayo jawab tanyaku.”
“Tapi janji ya kamu jangan marah?”
“Ya.”
“Dari panti asuhan temanku. Bayi itu baru dua hari di sana. Di antar neneknya, ibunya meninggal dan ayahnya sudah entah ke mana.”
“Malang sekali nasibnya.”
“Ia akan jadi anak paling bahagia bila kamu mau menjadi ibunya.”
Aku mengerlingkan mata padanya. Namun ku tangkap sinyal keraguan di matanya.
“Tak apa sayang, kita rawat dia. Kamu tak akan sendirian lagi menungguku pulang.”
“Baiklah.” Jawab Amira tersenyum.
Ada makhluk baru yang akan menemani kami mengarungi labirin kehidupan. Seorang bayi mungil tanpa dosa yang kami beri nama Rayhan. Amira sangat bahagia dengan perannya sebagai ibu baru bagi Rayhan.
Seperti ibu-ibu lainnya, Amira panik sekali saat Rayhan sakit. Kami sudah beberapa kali ke dokter namun flu Rayhan tak kunjung reda padahal sudah hampir dua minggu. Aku membawanya ke rumah sakit. Amira tampak cemas, tangannya memeluk erat Rayhan.
Rayhan dibawa ke ruangan yang berbeda-beda. Berbagai pemeriksaan yang menurutku berlebihan dijalani Rayhan, untuk flu yang biasanya sehari pun sembuh. Rayhan tampak tegar, Amira yang justru lemah. Khawatirnya berlebihan.
Sudah beberapa kali aku menghubungi rumah sakit, meminta hasil pemeriksaan dari buah hati kami. Hingga suatu siang, teleponku berdering panjang. Aku diminta segera datang ke rumah sakit. Tak ku kabari Amira. Aku meluncur sendirian, takut Amira malah tambah tertekan.
Setibanya aku di rumah sakit, aku langsung menemui dokter anak yang menangani Rayhan.
“Selamat siang, Pak. Saya Ryan, ayah dari Rayhan. Bagaimana hasilnya, Pak ”
“Selamat siang Begini, Pak. Dari pemeriksaan laboratorium, putra Bapak, Rayhan Kautsar positif mengidap HIV/AIDS.. ”
Bagai petir di siang bolong, menggelegar membahana. Jiwaku terguncang, aku menghubungi temanku meminta alamat Nenek yang mengantar Rayhan ke panti asuhan dulu.
Aku akan menemui nenek itu, dengan menggenggam alamat yang tertulis di secarik kertas. Aku sampai di perkampungan kumuh, kira-kira sepuluh kilometer dari panti asuhan temanku itu. Mobil ku tinggalkan saja, sebab gang-gang sempit ini takkan muat dengan badan mobilku.
Tubuhku kini menghadap pada gubuk tua yang hapir rubuh. Hatiku menjerit, rumah ini adalah rumah Rayhan yang sebenarnya.
“Assalamualaikum.”
Aku berkali-kali namun tak ada jawaban. Aku melihat sekeliling, banyak anak-anak sedang asyik bermain, aku menghampirinya.
“Permisi, Dik. Bapak mau tanya, yang di rumah itu ada penghuninya atau tidak?”
“Oh yang itu, masuk saja Pak. Ada nek Wiyah di dalam.”
“Tak apa langsung masuk saja?”
“Tidak apa-apa Pak. Nek Wiyah sudah lama sakit, sekarang hanya bisa berbaring di dalam kamar.”
“Kalu begitu, terima kasih, Dik.”
“Sama-sama, Pak”
Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah. Pengap sekali, nyaris tak ada udara bersih yang masuk ke ruangan ini. Aku mengucap salam lagi lalu masuk, benar kata anak kecil tadi, ada seorang nenek tua yang tengah terbaring lemah.
“Permisi Nek, maaf mengganggu.” Ucapku membangunkan sang nenek.
“Ya, siapa kamu?”
“Saya Ryan, maaf membuat nenek terkejut. Begini nek, ada yang ingin saya tanyakan. Saya harap pertanyaan saya tidak menyinggung perasaan nenek.”
“Ya, silahkan kamu mau tanya apa ?
”Empat bulan yang lalu, apa nenek mengantar seorang bayi laki-laki ke panti asuhan Ya Bunayya. ”
“Mengapa kamu tanya itu?”
“Sayalah yang mengadopsinya nek. Saya mohon nenek bisa menceritakannya.”
“Hmmm bayi itu memang cucu saya. Ibunya, putri saya semata wayang. Sayangnya si cantik itu keras kepala, ia nekad menikah dengan si laknat yang justru menyengsarakannya. Dua bulan setelah me lahirkan barulah Ia meninggal. Sudah tak kuat lagi Ia menanggung sakit di tubuhnya. Kata bidan di Puskesmas, tak ada obat yang bisa menyembuhkannya. Memang kurang ajar benar laki-laki itu, sudah pergi jauh malah menitipkan sakit yang luar biasa menyiksa.”
“Sakit apa itu nek?”
“Kalau tidak salah, AIDS namanya. Entahlah, manusia sekarang susah sekali membuat nama.”
Aku tersentak, hatiku meringis tak terima. Putra kecil yang baru saja masuk ke lembar cerita hidupku punya sejarah yang pahit. Ibunya mewariskan penyakit padanya. Aku tak kuasa menahan tangis, namun segera ke seka. Aku pamit pada nenek, ku genggaminya sedikit rezeki yang ku ambil dari dompet.
Aku keluar dengan langkah gontai, langit gerimis seperti hatiku. Ku bawa mobil dengan pelan, pikiranku kosong, tak tahu apa yang harus ku ceritakan pada Amira.
Pagi ini seperti pagi biasanya, mentari tak pernah terbit terlambat.  Tapi, entah mengapa aku merasa sang surya tak menyinari rumah kami. Gelap sekali, tak ada cahaya yang menuntun kami keluar dari kegelapan malam.
Amira harus segera diberitahu, tapi aku bingung harus mulai dari mana sementara Amira kini sedang asyik tertawa bersama Rayhan. Aku datang menghampirinya, larut dalam tawa bersama dua insan manusia.
---
Aku telah menceritakan semuanya pada Amira. Tebakanku benar, Amira histeris saat mendengarnya. Tapi, mau bagaimana lagi. Amira justru malah akan lebih tersiksa bila kabar ini ku sembunyikan darinya.
Tiga bulan pertama nyaris tanpa kata, suasana rumah tak lagi ceria. Namun, selanjutnya semua seperti sedia kala, Amira sudah belajar menerima keadaan Rayhan yang tak biasa.
Putra kecil kami tumbuh dewasa. Tujuh tahun sudah kini usianya. Amira memenjarakan Rayhan di kamar mewah, lengkap dengan semua fasilitas yang mungkin saja ia butuhkan. Mainan keluaran terbaru tertata rapi di kamarnya.
Pernah suatu kali, Amira pergi ke luar. Rayhan melihatnya sebagai suatu kesempatan berharga, aku mengizinkannya bermain bola dengan anak tetangga di  taman belakang rumah. Aku pun tenggelam dalam keceriaan bersama Rayhan selama beberapa jam.
Aku menyesali perbuatanku saat itu, aku tak sadar bahwa daya tahan tubuh Rayhan lemah. Ia jatuh sakit dan Amira marah sekali padaku. Ia tak menegurku seharian.
Kondisi Rayhan memburuk, kami membawanya ke rumah sakit, entah untuk sekian kalinya Rayhan tidur di kasur yang sangat dibencinya.
“Ma, aku mau pulang. Kasurnya keras, badanku jadi sakit semua. Kapan kita pulang, Ma?”
“Sabar ya, sebentar lagi kita pulang kok. Rayhan harus nurut sama mama biar cepat sembuh.”
“Aku sehat kok ma, lihat saja tubuh Rayhan kekar seperti Ade Rai.”
Aku dan Amira tertawa mendengar Rayhan berceloteh.
Tujuh tahun sudah Rayhan bersama kami, memberi warna dalam hidup kami yang dulunya hampa. Meski Rayhan tak lahir dari rahim Amira, tapi bagi kami sama saja. Ia tetap bocah penuh cinta sebagai jawaban Tuhan atas doa kami yang kami panjatkan dalam duha.
Mungkin kontrak kebersamaan kami dengan Rayhan telah berakhir. Penduduk bumi tak baik untuknya, karena itu Tuhan memintanya kembali agar tenang dalam dekapan surga. Aku sanggup menerimanya, tapi tidak dengan Amira.
Amira begitu terpukul malam itu, ketika hujan turun dengan derasnya ditemani petir yang saling sambar. Nyawa Rayhan tak dapat ditolong, ia kembali pada sang pencipta.
Empat belas tahun yang lalu aku meminangnya, memintanya dengan sungguh-sungguh agar jadi mempelainya. Ia tampak bahagia di hari istimewa kami, meski yang hadir hanya kakaknya sebagai wali nikah kami karena kedua pihak keluarga memang tak menyetujui hubungan kami dari awal karena persaingan bisnis yang memuncak. Jiwanya justru terguncang ketika berulang kali kehilangan putra.
Kini tak ada lagi kata yang keluar dari bibir Amira, hanya air mata yang mengalir di pipinya. Amira kurus kering, ia suka duduk sendiri melamun di sudut kamar. Terkadang ia tertawa seakan tengan bercanda dengan Rayhan.
“Lebih baik kita berpisah.”
“Maksudmu?”
“Hmmm berpisah, tak ada lagi yang bisa dipertahankan. Dari awal seharusnya kita tak bersama. Hanya saja, aku terlalu angkuh untuk menerima kenyataan bahwa kita memang tak boleh berdua.”
“Aku tak mengerti. Aku telah mengenalmu separuh usiaku, tapi tak pernah aku melihatmu segila ini.”
“Hahaha aku gila ya memang aku gila. Jadi sekarang tinggalkan saja aku yang sudah tidak waras ini.”
Aku ingat sekali percakapan ini, percakapan “serius” terakhir  antara kami. Amira benar-benar berubah. Aku hampir tak mengenalinya lagi. Banyak hal yang membuatnya begini, aku tak menyalahkannya karena ia memang tak punya andil dalam kekacauan yang terjadi saat ini.
Dulu banyak hal yang kami nikmati bersama. Duduk berdua di taman belakang rumah menanti senja menghilang atau bergurau hingga malam mencekam. Tapi kini bangku taman pun berkarat, rumput liar tumbuh semaunya. Taman suka cita kami berubah jadi padang ilalang.
Aku seperti sendirian, tak ada lagi Rayhan dan tak ada lagi Amira yang mempesona. Terakhir ku dengar kabar Amira menyusuri gang-gang berliku ke rumah nenek Rayhan. Di sanalah kini ia tinggal, jauh dari keramaian, jauh dariku yang menyemai kehancuran. Aku kini sendiri, bertahan melawan nasib, dalam labirin kehidupan.--- 

0 komentar:

Posting Komentar