Berlarilah Bersamaku
---
Namaku Berta, asli orang Lampung. Bapak Pubian dengan dialek A dan Ibu Abung dengan dialek O. Maka jadilah aku gado-gado, begitu teman-teman meledekku. Banyak adat istiadat yang membuatku jatuh hati pada Lampung,. Ah jelas saja, ini tanah kelahiranku, yang menjadi saksi pertumbuhanku.
Keluarga kami kecil dan begitu hangat. Aku satu-satunya anak di keluarga ini. Aku tak tahu mengapa Bapak dan Ibu enggan memberikanku adik meski saat ku kecil dulu sering merengek memintanya.
Waktu terasa cepat sekali berlalu, aku kini berusia delapan belas tahun. Aku telah lulus dari salah satu SMA di Liwa yang hanya berjarah berapa ratus kilometer dari rumahku. Aku berniat melanjutkan pendidikan hingga bangku kuliah. Susah payah aku merayu Bapak dan Ibu untuk merelakanku pergi.
“Sudahlah Berta, kamu itu perempuan. Tak usah repot-repot merantau ke Jawa. Nanti juga kamu itu diambil bujang, jadi istri yang kerjanya di dapur, kasur, dan sumur.”
“Lho Ibu ini, Berta kan mau belajar. Bukan sekedar main-main. Sekarang zamannya emansipasi wanita Bu, Berta mau jadi wanita karir.”
“Tidak. Nanti kamu malah menelantarkan keluargamu. Sibuk kerja dari pagi sampai malam. Biar suamimu nanti lari dengan perempuan lain baru tahu rasa.”Wajahku temaram, tak ku balas kata-kata Ibu. Ia menggerutu tak henti-henti. Aku pun berlari meminta pertolongan Bapak.
“Pak, Bantu Berta bujuk Ibu dong.”
“Lah kamu kan tahu watak Ibumu itu. Mana bisa diubah kata-katanya.”
“Tapi Berta kan mau terus belajar, Pak. Teman-teman Berta yang lain saja sudah siap berangkat. Mereka sudah dapat restu dari orang tua. Nah, Berta ini sendiri belum ada kepastian.”
Aku menghempaskan tubuhku di kursi tua itu. Untung saja, kursinya masih empuk. Kalau tidak, bisa remuk badanku ini. Mataku melirik menerawang ke langit-langit sementar Bapak tak lagi di sampingku. Aku memalingkan wajahku ke kamar Ibu. Terlihat Bapak masuk ke dalam. Mungkin Bapak akan membujuk Ibu, senyumku mengembang.
“Berta itu anak kita satu-satunya Pak, galis pula. Kalau dia sampai kenapa-kenapa bagaimana? Jogja itu jauh, Pak. Bagaimana kalau Berta tak ingat jalan pulang? Sudah senang di sana tak mau pulang.”
Aku melangkah menuju asal suara. Aku masuk dan langsung berbaring di pangkuan Ibu.
“Berta bukan Malin Kundang, Bu. Berta pasti pulang. Berta kuliah jauh-jauh ke Jogja juga karena Bapak dan Ibu. Coba nanti kalu kumpul keluarga besar, Ibu pasti bangga kan menceritakan putrid Ibu yang kuliah di Jogja? Jogja lho Bu, kota pelajar. Berta bisa jaga diri kok, Berta kan bukan anak kecil lagi jadi Ibu tak perlu khawatir. Ibu harus ikhlaskan Berta, biar Berta mandiri. Sekalian belajar jadi ibu rumah tangga yang baik, Bu.” Aku mengedipkan satu mataku ke arah Ibu.
Ibuku tersenyum, pertanda lampu hijau untukku. Maka aku pun berangkat seminggu kemudian. Aku naik bus langsung ke Jogja sendirian. Aku seperti diarak waktu itu. Bapak dan Ibu bersisian di sampingku, sementara di belakangku orang-orang kampung ikut ambil bagian mengantar sang kembang desa yang akan merantau ke pulau seberang. Tawaku meledak bila mengingat kejadian itu.
“Jangan lupakan Piil Pesenggiri, Nak. Itu pegangan hidup kita, orang Lampung. Baik-baik kamu di sana.”
“Iya, Bu. Berta selalu ingat.”
Ku cium kedua tangan orang tuaku lau perlahan roda bus bergulir mebawaku menjauh dari orang-orang terkasih. Di perjalanan aku ingat petuah Ibuku tentang Piil Pesenggiri.
Piil Pesenggiri adalah harga diri merupakan falsafah hidup masyarakat atau suku Lampung. Piil Pesenggiri juga sebagai pencerminan wajah masyarakat suku Lampung, dengan falsafah Piil Pesenggirii ini masyarakat suku Lampung dapat hidup berdampingan secara damai sesama suku Lampung maupun kepada masyarakat pendatang. Piil Pesenggiri mempunyai lima unsur. Yan pertama, Bejuluk Beadek (Bejuluk Beadok) yaitu berakhlak terpuji, berjiwa besar, bertanggung jawab, berkepribadian mantap, melaksanakan kewajiban. Yang kedua, Nengah Nyimah yaitu bermasyarakat dan terbuka tangan. Yang ketiga, Sakai Sambayan yaitu berjiwa sosal, tolong menolong, dan bergotong royong. Yang keempat, Carem Ragem (Caghom Ghagom) yaitu mempertahankan persatuan dan kesatuan. Yang terakhir, Mufakat yaitu bermusyawarah untuk mencapai satu tujuan terbaik untuk banyak orang. Sebagai falsafah atau pandangan hidup, maka ini sangat penting bagi masyarakat Lampung. Bila seseorang mengabaikannya maka ia akan disisihkan dan terasing dalam masyarakat Lampung.*
Hari-hariku di Jogja sangat menyenangkan . aku diterima menjadi seorang mahasiswi keguruan di salah satu universitas negeri di Jogja. Cukup membuat kedua orang tuaku bangga dengan pencapaianku. Teman-temanku baik. Banyak yang bernasib sama denganku, jauh dari kampung halaman, luput dari belaian orang tua. Dinding-dinding kamar kos menjadi saksi kerinduan pada gerak tubuh mereka.
“Kamu kuliah saja, tak usah bingung memikirkan uang. Biar Bapak yang tanggung.” Ujar Bapak saat aku mengutarakan niatku bejerja paruh waktu.
Tak ku sia-siakan kesempatan belajarku di Jogja. Aku tak mau gurat kecewa mampir di wajah orang tuaku. Setiap akhir semester ku kirimkan kartu hasil studiku ke Liwa, kampung halaman tercinta. Maka uang kirimanku akan mengalir deras di bulan berikutnya.
Setahun dua kali aku pulang ke pelukan Ibu dan Bapak. Meski jadwal padat, aku tetap memaksakan untuk pulang, mengobati kerinduan setelah belajar mati-matian. Aku memang selalu serius belajar. Ku buang jauh-jauh pikiran untuk berpacaran, takut menodai niat tulusku melenggang ke Jogja.
Tapi tak dapat ku pungkiri, ada sesosok manusia yang menarik perhatianku. Joko namanya, ku kenal dari satu lembaga kemahasiswaan yang ku geluti. Ia juga aktif di sana. Terkadang ia mencuri-curi pandang ke arahku dan saat aku menyadarinya ia langsung melempar pandang ke arah yang lain. Joko asli orang Jawa. Bila nanti aku dipertemukan dengan Ibunya, pasti saja aku ditanya suku apa dan setelah ku jawab Lampung, mungkin saja Ibunya akan memaksa Joko meninggalkanku mengingat sifat khas Lampung yang katanya keras. Aku hanya tersenyum bila membayangkan itu.
---
Hari ini panas sekali, neraka bocor umpat temanku di kelas tadi. Aku bergegas pulang mengendarai sepeda. Sesampainya di kamar kos, aku langsung menenggak habis segelas air putih lalu merebahkan tubuhku di pembaringan.. baku sekejap ku pejamkan mata, teleponku berdering nampak nomor Ibuku di layarnya.
“Assalamualaikum, Bu. Ada apa?”
“Waalaikumsalam, pulang Nak. Sepupumu si Puri itu akan menikah.”
“Tapi Berta masih ada kuliah, Bu. Besok malah ada kuis.”
“Tak uruslah, awas kamu kalau tak pulang. Bulan depan tidak Ibu kirimkan uang.”Ibu mengakhiri pembicaraan. Nada suaranya mengancam, tapi sejujurnya aku tak percaya Ibu tega melakukan itu. Namun, ku iyakan sajalah. Aku juga rindu berat padanya. Aku pun bangun dan membeli tiket untuk keberangkatan besok siang.
---
Mentari pagi menyusup melalui ventilasi. Kehangatan merasuk tubuh, memaksaku bangun untuk menyapa sang bola api di ufuk Timur. Aku duduk di tepi ranjang melihat seisi kamar yang akan ku tinggalkan beberapa hari ke depan. Ketika pijakanku tepat di bayangan, maka bus akan membawaku kembali pada hiruk pikuk jalan pulang.
Sekarang aku duduk di kursi bus biru yang tengah berjalan di atas aspal hitam yang panjang. Ku dongakkan kepalaku ke jendela kaca, menikmati suasana Jogja yang begitu ramah. Di sebelahku duduk seorang bapak tua, sesekali Ia mengajakku bercerita lalu setelahnya Ia diam.
Sehari semalam di bus membuat tubuhku remuk, aku benar-benar rindu rumah jadinya. Turun dari bus, aku langsung disambut senyuman khas Bapak. Rupanya Ia tak sendiri, kijang hijau menemaninya. Ku cium tangannya yang menua. Semua barang yang ku bawa telah pindah ke mobil Bapak, aku sipa bertemu Ibu dan segenap sanak famili.
Kedatanganku disambut dengan sukacita, bagai bayi yang baru saja dating dari tempat bersalin sang ibu. Ku cium tangan ibuku.
“Akhirnya kamu pulang juga.” Ujar Ibu.
“Pasti dong Bu, aku kan penurut.” Jawabku sambil mengerlingkan mata.
“Wah muli sikop ghadu mulang.”** Tetanggaku menimpali.
Akub tersenyum saja, barang-barangku telah dimasukkan ke kamar. Aku segera masuk dan berganti pakaian lalu kembali mendekati Ibu.
“Puri mana Bu?”
“Ah kamu ini, mengaku hulun Lappung*** tapi tidak tahu adapt istiadatnya. Ia dilarikan si bujang.”
“Oh iya, Berta lupa.”
“Dasar kamu ini. Coba dulu kamu tidak lanjut kuliah ke Jogja, pasti kamu sudah dilarikan juga”
“Ah Ibu, setiap orang punya jalan masing-masing. Kalau Berta sudah lulus dan bekerja, Berta juga pasti menikah, Bu.”
Adat kami memang unik. Kami menganut sistem perkawinan Jujur karena lelaki mengeluarkan uang untuk membayar jujur/Jojokh (Bandi Lunik) kepada pihak keluarga gadis (calon istri). Dengan cara Sabambangan, si gadis dilarikan oleh bujang dari rumahnya dibawa ke rumah adat atau rumah si bujang. Biasanya pertama kali sampai si gadis di tempat si bujang dinaikka ke rumah kepala adat atau juragan, baru dibawa pulang ke rumahnya oleh keluarga si bujang. Cirinya si gadis meletakkan surat yang isinya memberitahu orang tuanya kepergiannya Nyakak atau mentudau dengan seorang bujang (dituliskan Namanya), keluarganya, kepenyimbangannya serta untuk menjadi istri keberapa, selain itu meninggalkan uang pengepik atau pengluah yang tidak ditentukan besarnya, hanya kadang-kadang besarnya uang pengepik dijadikan ukuran untuk menentukan ukuran uang jujur (bandi lunik). Surat dan uang diletakkan di tempat tersembunyi oleh si gadis. Setelah gadis sampai di tempat keluarga si bujang, kepala adat pihak si bujang memerintahkan orang-orang adat yang sudah menjadi tugasnya untuk memberi kabar secara resmi kepada pihak keluarga si gadis bahwa anak gadisnya yang hilang telah berada di keluarga mereka dengan tujuan untuk dipersunting oleh salah satu bujang anggota mereka. Mereka yang memberitahu ini, mengaku salah. Ada yang menyerahkan Kris, Badik, dan ada juga dengan tanda mengajak pesahabatan seperti membawa gula atau rokok. Acara ini disebut Ngebeni Pandai atau Ngebekhi tahu. Sesudah itu berarti terbuka luang untuk mengadakan perundingan secara adat guna menyelesaikan kedua pasangan itu. Segala ketentuan adat dilaksankan sampai ditemukan titik kemufakatan, kewajiban, pihak bujang pula membayar uang penggalang sila ke pihak adat si gadis.
tangga yang indah adalah rumah tangga yang penuh cinta, seperti yang ditunjukkan kedua orang tuaku.
Joko, bila nanti tiba waktu kita, nyatakanlah cintamu padaku, bawa aku pergi, dan berlarilah bersamaku.


0 komentar:
Posting Komentar