RSS

Hijab

Aku dan Balutan Kerudung
Aku tumbuh menjadi seorang gadis keturunan Tionghoa berku;it sawo matang. Hal yang langka, bukan? Aku mewarisinya dari Ibuku yang notabene bersuku Jawa.sedangkan Ayahku, keturunan Tionghoa yang telas memeluk Islam jauh sebelum pertemuan dengan Ibundaku tercinta. Yang membuat ku kagum adalah beliau begitu istiqomah dengan Islam kendatipun Ibu kandungnya berbeda keyakinan.
Aku mengenyam pendidikan TK dan SD di sebuah sekolah Kristen di kotaku, Bandar Lampung. Tapi itu tak berarti aku kehilangan jati diriku sebagai seorang muslim. Aku mendapat pengetahuan tentang agama di Pondok Hasanuddin yang tak jaug dari rumahku.


Lalu aku melanjutkan pendidikan di sebuah SMP negeri, msih di kota yang sama. Hari Kamis aku mendapat pelajaran Agama Islam secara formal untuk yang pertama kalinya, guruku saat itu adalah Ibu Aguslena, pribadi yang sederhana namun bersahaja. Wajahnya penuh ketengangan, kepalanya dikerudungi kain tebal tapi tak nampak gerah dengan keadaannya yang seperti itu.
Dulu aku tak punya niat untuk berhijab. Pikirku itu hanya untuk wanita yang telah berkeluarga. Belum paham benar tentang kewajiban menutup aurat bagi seorang muslimah yang jelas-jelas tercantum di QS. An-Nur : 31 dan QS. Al-Ahzab : 59.
Pikiranku terbuka menginjak SMA. Aku mengikuti ekstrakurikuler Rohis (Rohani Islam). Di sana aku mendapat banyak pengetahuan baru yang ku dapat lewat Liqo. Kemudian hatiku terketuk. Berada di kumpulan akhwat berhijab membuat ku tentram, rasanya nyaman sekali. Mungkin itu panggilan hatikuuntuk segera menjalankan perintah Allah SWT.
Ternyat aku tak sendirian, seorang temanku pun merasakannya juga. Maka kami mengumpulkan tekad untuk mengubah penampulan secara bertahap. Kmi sepakat memulainya di 21 Oktober 2008. Aku ingat benar saat itu aku menhenankan rok putih semata kaki, kaos biru lengan panjang, dan kerudung motif bergo yang berwarna biru muda.
Aku baru memakainya ketika keluar rumah. Sementara ketika sekolah, ku tanggalkan kerudungku. Ada yang berbeda rasanya, seperti kehilangan jiwaku. Tapi mau bagaimana lagi, tabunganku belum cukup untuk memebeli seragam baru.
Rencana Allah memang indah, Ia tak membiarkan kami sendirian. Doa kami terjawab dengan program kerja FKAR (Forum Komunikasi Alumni Rohis) yang saat itu memfaslitasi seragam muslimah bagi siswi yangingin berhijab. Tanpa piker panjang, aku dan temanku itu segera mendaftarkan diri. Padahal, saat itu kami belum minta izn pada orang tua.
Aku sudah yakin benar. Ayahku mengizinkan tapi Ibuku masih ragu. Hari yang cerah itu datang juga. Selasa, 11 Nopember 2008 aku dating ke sekolahdengan seragam gratis yang menutupi auratku. Teman-temanku takjub, walaupun ada juga yang meledeku dengan sebutan ninja. Tapi ku abaikan saja, mungkin dia hanya bercanda.
Sebenarnya ada yang mengganggu perasaanku, ibuku pernah bilang begini, “Mama tidak pernah membayangkan dua putri mama akan berhijab. Mama kira kalian akan memakai rok ketat selutut dengan sepatu berhak tinggi khas wanita kantoran.”
Aku menangkap gurat kekhawatiran bahwa aku dan kakakku akan sulit mendapat pekerjaan karena penampilan kami yang istimewa. Kakakku memang telah berhijab setahun lebih dua tahun lebih dulu daripada aku, di awal perkuliahannya. Aku berusaha meyakinkan Ibuku bahwa rezeki itu sudah ada yang mengaturnya. Semut pun punya, apalagi manusia makhluk yang paling sempurna. 
Dan kini di tahun keempat ku berhijab, aku makin istiqomah . takada satu alas an pun yang dapat membuatku meninggalkannya. Hijab telah menjadi bagian dari diriku. Kakakku telah bekerja di sebuah Bank Syariah swasta nasional. Aku percaya, ketika kitatulus menjalankan perintah Allah, maka Ia akan memudahkannya danmenghadiahkan sesuatu yang berharga..

0 komentar:

Posting Komentar