Aku kembali lagi menyapa mentari yang menatap sinis padaku, mungkin ia iri sebab kini aku lebih bercahaya darinya.
Ku dapati bus yang akan membawaku ke tempat lain, mengisi hari panjang yang membosankan.
Aku duduk sekenanya dan mentari masih membuntutiku, tak rela rupanya bila ia tak mampu menyakiti mataku dengan silaunya.
Maka ku alihkan pandangan pada secarik kertas yang ku pegang erat-erat, ku tundukkan kepala hening membaca. Tapi sia-sia, perhatianku tertarik pada handle di langit-langit bus yang berhimpitan, seakan saling bertanya kabar, mengenang hal yang dialami bersama.
Mereka bertetangga dekat, selalu bersua sepanjang masa. Meski hanya sesekali bersentuhan ketika badan bus terguncang, tapi nampaknya mereka baik-baik saja. Tak ada yang membuat mereka jenuh dan senantiasa bersama.
Suara yang mereka buat kala berpapasan membuatku mengingatnya. Ia yang begitu jauh dari jangkauan. Untuk sekejap, aku terluka, ingin rasanya dekat seperti mereka.
Tapi, mungkin aku justru akan lebih tersiksa. Coba lihat handle kuning di pagi itu, dahinya mengernyit, memandang tajam tangan-tangan berbeda yang selalu menggenggam erat pasangannya sementara ia terisak dan tak punya kesempatan untuk memeluknya.


0 komentar:
Posting Komentar