Ia bilang begini, ia bilang begitu dengan nada tinggi seperti elang menukik tajam. Matanya bersorot kuat, tangannya mampu mematahkan tulang di tubuh ini. Dalam gelapnya malam yang sunyi, kebisuan pada empat dinding persegi. Aku ingin teriak dan melawannya, namun nyatanya aku diam saja. Hanya sedikit air mata yang mengalir di bawah selimut, dengan telepon tergenggam terhubung dengan seorang di sana. Yah aku hanya mampu bercerita, sebelum semua ini sesak di dada atau memecahkan kepala.
Aku menyerah..


0 komentar:
Posting Komentar