RSS

dan pada akhirnya aku


Di stasiun itu aku mematung seorang diri, sepanjang petang hingga malam menghadang. Satu inchi pun aku tak bergerak dari tempat aku berpijak. Waktu yang begitu berharga, yang kuhabiskan tuk menunggumu di separuh usia. Aku telalu berupaya keras, mengorbankan banyak hal demi selaksa cerita cinta tentang kita.
Tapi mimpi tinggallah mimpi, semakin keras ku mencoba semakin kokoh benteng penolakanmu.
“Aku benar-benar mencintaimu, Kyra.”
“Sungguh?”
“Dengan segenap hati aku bersungguh-sungguh.”
“Apalagi yang harus kubuktikan padamu. Kau telah saksikan sendiri bagaimana aku setangah mati mengejarmu.”

“Itu tak cukup apa-apa untuk membuktikannya. Hanya begitu saja kau mengeluh.”
“Kau keterlaluan, Kyra. Tak bisakah kau hargai perjuanganku. Sedikit saja, berilah waktumu yang berharga itu, aku ingin menjalaninya denganmu.”
Kau berlalu begitu saja, meninggalkanku yang diam seribu bahasa. Di statsiun itu, yang kau bilang pelabuhan cita-citamu. Sebegitu pentingnyakah dibanding aku? Entah hatimu terbuat dari batu, senyumpun tak ku temui di wajah manismu. Aku hanya mencuri kesempatan di balik celah-celah malam untuk menikmati kecantikanmu.
Aku mencoba untuk bertahan, tapi rindu memaksaku untuk menyerah, menjebakku pada labirin yang tak tampak, hanya disekat dinding dinding segiempat. Aku terlalu takut kehilanganmu, sepanjang waktu ku ingat-ingat wajahmu, ku sebut namamu, agar aku tak lupa bagaimana cinta hidup di hatiku.
Kukumpulkan keberanian untuk membawamu kembali, dengan secercah harapan ku datangi stasiun itu lagi. Kali ini dengan tiket tergenggam erat di jemari tanganku, senyum tak pernah pindah dari bibirku yang beku. Aku bayangkan bagaimana kita berjumpa. Kau pasti lebih cantik dari sebelumnya.
Ah aku tak sabar, jantungku berdegup kencang, menyanyikan lagu cinta. Hingga waktu itu tiba, kau berada tepat di hadapanku. Ingin segera ku dekap tubuh mungil itu tapi tak kulakukan, ada pria lain yang bersebunyi di balik ragamu itu.
Kau tak kenali aku sang pengangum sejati, yang mencintaimu tiada henti. Geram hati ini, kembali lagi ke stasiun tadi, tapi bukan untuk kembali, melainkan untuk menabrakan diri.
Pada akhirnya aku kehilangan segala yang kupunya, kau yang kudamba juga cinta yang kujaga.

0 komentar:

Posting Komentar