Aku punya janji dengan seseorang, tapi masalahnya aku
terjebak dalam kemacetan panjang. Klakson mobil bersautan. Sesekali ku lihat jam
tangan, berharap-harap cemas agar ia menungguku yang tak kunjung datang.
“Dan, tunggu bentar ya. Masih kejebak macet nih. Nguler banget
deh.”
“Ya, udah biasa tuan putri. Harusnya tadi aku jemput aja
biar kamu ga tua di jalan.”
Ku matikan telepon dan kembali ke keruwetan jalan raya. Kapan
terbebas dari penjara ini, padat merayap di jam makan siang yang sebentar lagi
berakhir.
“Udah sampe mana?” Tanya pria di ujung telepon.
“Ini lagi di parkiran, 5 menit lagi sampe kok.”
Aku masuk ke cafe itu, menghampiri pria di meja paling
pojok, tempat favorit kami saat memadu kasih dahulu.
“Tambah cakep aja.” Godanya memulai percakapan.
“Iya dong. Memangnya kamu tambah kumel.”
Kami tertawa bersama, bernostalgia bagaimana indahnya
kehidupan masa lalu saat berdua.
“Seandainya kamu sama aku Din, ga bakal gini deh hidupmu. Kemana-mana
nyupir sendiri. Kamu itu perempuan loh.”
“Hmm sudahlah jangan mengarah ke sana. Aku menikmati hidupku
yang sekarang.”
“Coba lihat dirimu, tambah kurus, mata cekung, muka pucat,
kayak mayat idup. Merana banget, coba kalo sama aku, terjamin hidupmu. Tega sekali
Bram itu menyia-nyiakan wanita seperti kamu.”
“Paling tidak, ia memberiku anak, Dan. Ga seperti kamu! Jadi
jangan salahkan aku meninggalkan kamu, mantan suamiku.”


0 komentar:
Posting Komentar