Ada yang tahu bagaimana rasanya mencinta yang seharusnya tak
dicinta? Tenggelam dalam buaian sang penggoda.
Matanya lebih teduh dari yang sebelumnya, senyumannya
menorehkan getar yang luar biasa. Lalu apa yang harus ku perbuat ketika aku tak
berdaya menolak segala pesonanya? Aku terbuai, membiarkan diriku jatuh makin dalam.
Aku menikmatinya.
Mentari kembali ke peraduannya, meninggalkan pemandangan
angkasa kala senja. Aku sedang duduk santai di teras rumah, bersandar pada
kursi rotan ditemani secangkir teh hangat ketika suara mobil menderu dan
berhenti di depan istanaku.
“Ia pulang.” Gumamku dalam hati
Salam terucap dari bibirnya yang tipis dan aku menjawab
sekenanya. Lelah nampak jelas di raut wajahnya yang pucat.
“Bagaimana? Apa sudah kau pikir matang-matang? Apa kau
takkan menyesal”
“Entahlah.” Ia, suamiku, yang telah hidup satu atap denganku
dalam waktu yang panjang, menghujamiku dengan banyak pertanyaan.
“Jangan gegabah, belum tentu yang baru akan lebih
menyenangkan.”
“Aku takkan salah pilih, aku menyukainya dari pandangan
pertama.”
“Coba ingat-ingat kenangannya, bagaimana melalui hari
bersama seperti biasanya.”
Aku tertegun, tak mampu menjawab, pikiranku melayang jauh,
aku diam saja. Aku mulai mengingat-ingat bagaimana kali pertama bertemu dengan
Mario, meyentuhnya, bagaimana ia menyapaku, sorot mata yang mampu membuat ku
terpana.
“Hmmmm...”
Hadphoneku
berdering, nampak nama yang membuat mataku berbinar.
“Bagaimana? Sudah kau putuskan Dis?”
“Sepertinya sudah.”
“Lalu?”
“Maafkan aku, tapi aku mencintai Mario, maaf, aku tak bisa
melepasnya, sekalipun untuk Mashaka.” Segera ku tutup telepon, kuyakini hatiku
untuk tak menyesal.
Kakiku terasa hangat, bulu-bulu halus yang lebat tengah
bermain di sana, aku melirik. Tersenyum, kuhadiahi ia dengan sebuah pelukan
hangat.
“Oh, sayangku. Tak akan ku lepas engkau, ternyata aku memang
begitu mencintaimu. Kau telah menemaniku selama ini, mana boleh aku menukarmu
dengan Mashaka, yaah walaupun dia memang lebih manis darimu.”
Tak banyak yang ia ucap, hanya sepotong kata yang membuatku
makin cinta: “Meoow.”


0 komentar:
Posting Komentar