Wajahku bersembunyi di balik buku yang kujadikan alibi
sedang mataku leluasa menikmati gerak-geriknya yang memesona. Aku suka
memandangnya, mengamati senyum di bibirnya yang begitu manis. Ah rasanya aku
mampu melayang bebas ke angkasa raya.
Pagi ini aku sangat beruntung, duduk di sebelah kaca jendela
kelas dan tanpa sengaja ia nampak. Deru motor besarnya sampai di telingaku,
diparkir olehnya, jantungku berdegup kencang seakan melompat berlari ke
arahnya.
Nampak raut yang ku kenal sejak lama, di balik helm itu, ia
menyapa teman-teman yang ada di sekitarnya sementara aku hanya mampu mematung,
tersenyum sendiri membayangkan duduk di jok motornya yang kosong.
Sesekali kucuri pandang ke arahnya yang masih bercanda ria,
ingin rasanya aku teriak sambil mencubit lengannya: “Hey, mau ujian. Cepat masuk!”
Semoga ia dengar kata-kata yang hanya mampu kuucap dalam hati.
Ia menangkapku, melihat ke arah jendela dimana aku mengamati
pria tampan yang menyita seluruh perhatianku. Aku tersipu malu, melempar
pandang sekenanya. Mati aku jika dia tau aku memandanginya.
Hari-hari berlalu seperti biasa, masih dengan tokoh yang
sama, lakon yang hanya mencintai dalam kediaman. Dalam kesepian, tanpa punya
keberanian untuk mengungkapkan.
“Rin?”
Aku selalu bahagia bila mengingat bagaimana ia mengucap
namaku perlahan, dengan suaranya yang lembut, dengan mimik wajah yang
menggemaskan.
“Aku mungkin mencintaimu. Hmm bukan, aku memang benar-benar
mencintaimu.” Aku berharap mampu mengucapnya, tapi yang keluar hanya : ”Ya?”
Ia pun bersegera mengucap apa perlunya dan berlalu begitu
saja. Menyaksikan tubuhnya menjauh tanpa mampu mendekap erat. Entah kapan ia tahu bagaimana hati ini bernyanyi
mengalunkan namanya.
Waktu mungkin akan menjawab, menyerah dan terus menerus mencintamu, tenggelam dalam
diam atau menantangku untuk memperjuangkanmu, karena yang ku tahu kata-kata ini selalu berlarian di kepalaku:
"Jangan pernah takut untuk jatuh cinta dan beranilah untuk mengungkapkannya, agar cinta menjadi nyata."
Sudah kulalui seribu tahun mencintamu dan kupastikan rasa itu tak pudar untuk seribu tahun lagi. Seribu tahun yang tak ada artinya tanpamu. Seribu tahun yang paling berharga dengamu.
"Jangan pernah takut untuk jatuh cinta dan beranilah untuk mengungkapkannya, agar cinta menjadi nyata."
Sudah kulalui seribu tahun mencintamu dan kupastikan rasa itu tak pudar untuk seribu tahun lagi. Seribu tahun yang tak ada artinya tanpamu. Seribu tahun yang paling berharga dengamu.


0 komentar:
Posting Komentar