Aku bicara pada Tuhan dalam diam, ketika yang lain memohon kemenangan, merengek kebahagiaan, aku hanya bersuara lirih: “Kau tahu apa yang ku mau, sebab itu tak ku panjangkan doaku. Aku tak minta kau kabulkan harapku, hanya saja kuatkan aku bila yang terjadi tak seperti yang ku damba.”
**
Hujan deras di luar jendela, aku menatap lekat-lekat pada sosok beku yang terbujur kaku tak berdaya. Aku diam saja, tak tahu harus berbuat apa-apa, seharusnya aku menangis sekarang. Yah menangis, tapi itu pun tak kulakukan, hanya melempar pandang kosong pada sekitar ruangan. Begitu dingin, begitu mencekam.
Kupejam mata ini, lalu tubuhnya seolah menari, menggodaku untuk larut bersama. Kunikmati itu, dia mulai tertawa, tawa bahagia yang selalu ada di wajahnya, sekalipun hatinya terluka. Ah! Gadisku begitu baik rupa, dalam diamnya pun begitu bersahaja.
Dua bulan yang lalu kami memutuskan untuk hidup bersama, setelah perjalanan panjang tentang kisah asmara, mungkin seribu episode tayang mengurai suka duka dua anak manusia. Ada yang menusuk hati ini, ketika pikiran melayang jauh ke saat pertama kami bertemu.
Aku menyesal, sunggih sangat menyesal. Bukan menyesali pertemuan, melainkan waktu yang terlambat membawaku padanya. Andai sejak dulu kami bersama, air mata tak akan tumpah ruah banjir seperti ini.
Sudahlah, akan kuseka lara ini yang begitu menghujam nadi, sementara yang tercinta telah pergi, ke tempat yang saat ini tak mungkin ku datangi. Aku ingin mengumpat Tuhan, begitu kejam yang memisahkan kami, tapi segera ku tepis, karena mengutuk-Nya pun tak akan membuat gadisku bangun lagi.
Kini ku dekati raga mungil itu, tersenyum kelu layaknya beribu kata terjebak di situ. Ku genggam tangannya, ku raba rambut panjangnya. Dia bidadariku yang jatuh dari surga, sayapnya sengaja kupatahkan agar ia tak kembali ke nirwana.
Maafkan aku yang memaksanya untuk kuat, kini ku relakan ia kembali pada lembah yang hijau, pada sungai yang mengalir jernih. Aku hidup dengan sisa-sisa nafasku yang terbaring bersamanya, meski sepanjang umurku tak mampu tanpanya.
Karena mungkin waktuku telah habis dengannya tapi cinta hidup untuk selamanya.


0 komentar:
Posting Komentar