“Kita sudah berjanji untuk sehidup semati.”
“Ah sudahlah, tak perlu diperpanjang. Aku hanya tak bisa melanjutkan hubungan ini, mengertilah!”
“Tapi...”
Tak ada manusia yang bisa dipercaya, sekalipun ia telah lama hidup di tubuhmu, begitu dekat tanpa ruang sedikitpun. Terlalu banyak alasan atau malah tak ada sama sekali, hanya hati yang bicara. Entah kebohongan atau kebenaran yang kudengar saat ini.
Aku nikmati rasa sakit ini, terseok-seok dalam keterpurukan, butiran debu yang tak berarti, ke sana ke mari dihembus angin sementara aku tak ada daya uuntuk berdiri. Aku tersesat di dunia yang kukenal, tapi kini semua jadi gelap, pengap.
Tak habis pikir mengapa wanita selembut dirinya dengan mudah kehilangan hati. Mungkin otaknya yang tengah bicara, membunuhku diam-diam dengan segala kenangan. Bagaimana ia menuntunku dengan segenap kasih sayang, ke tempat yang kukira lebih terang, tapi ternyata kau bawaku ke lautan. Indah rupanya, berenang bersama, hingga saat aku lengah aku kau tenggelamkan begitu dalam. Aku memanggil-manggil namamu sedang kau hanya tersenyum penuh kemenangan.
Rasanya ingin teriak hingga pita suara ini rusak dan tak bisa bicara lagi, dengan begitu tak ada namamu lagi yang kusebut di sepanjang malam, toh kau pun takkan dengar. Telingamu sudah tersumbat fatamorgana dunia, mencampakkan aku yang lama mencintamu.
Kau berlaga seolah tak terjadi apa-apa, kau lupa aku punya hati yang bisa melihat tingkahmu dengan jelas. Ku akui skenario yang kau mainkan begitu rapi, nyaris tak nampak topengmu yang busuk itu. Tapi nyatanya aku tahu bukan?
Menjauh, semua yang terjadi antara kita. Susah payah ku bawakan rembulan padamu dan kau bawakan luka sebagai gantinya. Harus kuadukan pada siapa sakit ini? Bisakah kau jawab dengan akalmu yang kelu.
“Aku takkan meninggalkanmu, apapun yang terjadi aku ‘kan setia pada satu hatimu.”
Ingin kupecahkan saja kepala ini, tiap detik kata-kata itu berputar di pikiranku. Aku ingat benar bagaimana ku jawab ucapmu itu.
“Aku mempercayaimu, sayangku. Tak dapat kubayangkan bagaimana aku tanpamu.”
“Tak akan terjadi sayang, itu hanya sekedar ketakutan yang tak beralasan. Hanya engkau lelaki sempurna di mataku.”
Aku tak tahu bagaimana mengumpulkan kepingan hati yang jatuh berserakan di tempat kau tinggal aku atau biar sajalah di sana, tersapu waktu seperti aku yang habis tanpamu.
Ku susuri jalan berliku, yang mungkin ‘kan membawaku pulang atau ke tempat asing, yang jauh dari segenap bayangmu. Biar aku jadi butiran debu, yang kau sapu dari ruang tamu rumahmu. Biar lebih indah, tanpaku di sisimu.
Yah benar sekali, bagimu mungkin aku butiran debu, yang menyesakkan dadamu sementara aku tak berarti, kau bersikap tak peduli.


0 komentar:
Posting Komentar